Sunday, June 5, 2011

Suatu Masa


           Ada suatu masa, aku memimpikan dirimu berlutut di hadapanku, dengan sebuah  kotak berisikan cincin mungil bertatahkan berlian cantik, untukku. Kau bertanya padaku, maukah aku menikah denganmu, dalam sebuah makan malam kejutan yang romantis di tepi pantai dengan hanya sebatang lilin merah yang menerangi kita. Aku mengangguk sambil  tersenyum bahagia, dan kau memelukku. Semua terasa begitu sempurna, saat kau menatap mataku dan berkata, “Terima kasih, aku mencintaimu sayang....”


Berikutnya, kisah akan terus bergulir dan tibalah kita di suatu hari saat kita berlutut bersama di hadapan seorang pendeta yang memberkati pernikahan kita. Setiap mata dalam gereja memandang kita penuh rasa haru bercampur iri. Kita saling mengucap janji setia, bertukar cincin dan kau mengecupku mesra setelah pendeta mengesahkan kita sebagai sepasang suami istri. 


Malam resepsi menjadi malam yang luar biasa buat kita. Ratusan orang datang  mengucapkan selamat, merasa iri sekaligus merasa bahagia atas kebersamaan kita. Mereka bilang, kita pasangan yang serasi dan aku yakin mereka benar dalam hal itu. Kita menjadi pasangan pertama yang berdansa kala itu, selanjutnya berpuluh-puluh pasangan turun ke lantai dansa dan bergabung bersama kita dalam alunan musik cinta pilihan kita berdua. Bagiku, tidak ada musik yang lebih indah daripada suara manismu dan debar jantungmu. Kau menatapku begitu rupa dan genggaman tanganmu melenyapkan semua keresahan dan keraguanku.


Malam pertama kita lalui dengan begitu sempurna, kita bersama memadu cinta dalam sebuah kamar dengan dekorasi khas pengantin baru. Kita tertawa dan saling bercerita, bergelas-gelas wine menemani kita malam itu, merayakan langkah baru yang kita ambil dalam hidup kita. Lilin-lilin temaram menggantikan tugas para lampu malam itu, aroma white musk yang menggairahkan menyeruak di udara dan kita saling bercumbu di atas ranjang bertiang empat dengan kelambu merah seperti yang selalu aku inginkan, yang dipenuhi kelopak mawar putih segar. Kita tertidur tanpa mimpi karena mimpi terindah kita ada di dunia nyata. Kau memelukku dan aku mengagumi setiap senti kulitmu, rambutmu, semua yang ada padamu luar biasa indah dan mengagumkan. 


Bulan madu kita begitu indah dan tak akan bisa kulupakan. Kita pergi menikmati nyaris setiap sunset romantis yang ada di pantai-pantai mempesona, menjelajah sungai-sungai di hutan hujan tropis dan berbagi kisah hidup di sebuah balkon villa cantik di Italia dengan diterangi cahaya gemintang yang berbinar lembut di  langit malam.   Kita sudah menikmati tempat-tempat indah yang ada di setiap benua, dan aku bahagia karena aku bisa menikmatinya bersama dirimu. 


Hari-hari akan kita lalui dengan sempurna. Aku membuatkan sarapan untukmu setiap pagi dan kau selalu terbangun dengan begitu mempesona. Kita lantas berpisah di pagi hari untuk melakukan pekerjaan masing-masing, dan kembali di sore hari dengan beragam cerita yang dibagikan sambil menikmati makan malam yang telah kubuatkan untukmu. Setelah makan malam, kita menikmati acara televisi di sofa ruang tengah. Kadang-kadang kita mengoceh tentang apa saja yang terlintas di kepala. Terkadang kita diam saja, saling menikmati kehadiran masing-masing. 


Tibalah saatnya, kita memiliki seorang anak yang lucu. Disusul anak-anak lucu lainnya. Kau mencintai mereka, begitupun aku. Mereka adalah harapan dan masa depan kita, dan kau selalu bilang, tidak ada yang bisa kau harapkan lagi karena semua mimpimu telah menjadi nyata. Kau punya pekerjaan hebat, dan keluarga yang luar biasa. Sesekali kita berkunjung ke rumah sanak saudara, dan kita menikmati kisah-kisah bahagia mereka. Anak-anak kita memancarkan pesona luar biasa bagi kita. Bagimu dan aku, mereka bukanlah sekedar pelengkap hidup, mereka melanjutkan mimpi-mimpi yang telah kira rajut di hari-hari saat harapan terkadang terasa begitu absurd. 


Di hari tua, kita akan duduk menikmati secangkir teh yang kau seduhkan dalam sebuah teko besar yang cantik. Aku mengambilkan kue-kue kering kesukaanmu dan bersama kita menikmati senja yang menyenangkan di teras depan rumah kita. Anak-anak kita telah  melebarkan sayap impian mereka dan menempuh jalan mereka masing-masing. Mereka cukup sering mengunjungi kita dan kitapun tidak pernah lupa memasukkan mereka dalam doa-doa kita. Rumah kita masih yang dulu, dengan kekayaan yang berbeda. Rumah kita telah sarat dengan memoar hidup kita. Yang terkadang berliku dan berat. Terkadang begitu perih dan seakan begitu sulit untuk ditempuh. 


Seringkali orang akan bertanya pada kita, bagaimana bisa kita saling mencintai dengan begitu indah, bahkan hingga rambut kita telah memutih seperti kapas. Kau selalu bilang, hiduplah dengan penuh syukur dan selalu lihat sisi yang menyenangkan dari setiap peristiwa dalam hidup. Sedangkan aku akan jawab pertanyaan mereka seperti ini, “Aku selalu mengingat saat-saat menyenangkan. Jika ada kisah hidup yang akan aku tuliskan, itu adalah kisah-kisah bahagia. Kisah-kisah sulit hanyalah seperti hujan di musim kemarau. Mereka hanya sekedar lewat dan membuat hidup semakin segar untuk dijalani. Beginilah aku akan menulis hidupku. Dengan bahagia.”  








No comments:

Post a Comment

please gave me your comment here^^